“Korupsi itu sudah terlalu merajalela di Indonesia. Dan Mimpi Pemberantasan Korupsi itu harus diperjuangkan sejalan dengan peningkatan spiritualitas”. Ucap Praswad berapi-api.
Satu Minggu setelah berada di Australia, akhirnya saya mengenal lebih dalam mantan pegawai KPK yang disingkirkan secara tragis. Mochamad Praswad Nugraha. Juga biasa dikenal sebagai Bung Praswad. Panggilan Bung tentu mengingatkan pada sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan. Para pejuang biasa menyematkan panggilan Bung bagi pemuda pejuang, seperti halnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan lainnya.
Saya mengawali obrolan dengan alumni Master of Law, Queensland University of Technology ini, dalam perjalanan dari hotel Oaks Aurora menuju kantor pemerintahan Queensland. Hotel Oaks Aurora menghadap langsung sungai Brisbane yang berwarna hijau nan eksotis.
Jarak perjalanan yang kami lalui hampir 2KM, saya bahkan sibuk membuat catatatan dan menyelesaikan setengah tulisan ini dalam perjalanan. Saya sibuk membuat notes dalam HP sambil mendengarkan penjelasan Praswad. Sepanjang perjalanan, kami berdiskusi tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Tentu, melihat Praswad sebagai tokoh atau penyidik senior dalam Pemberantasan Korupsi, posisi saya adalah murid yang lebih banyak mendengarkan. Sedangkan, Praswad adalah sumur dalam, yang airnya tidak pernah habis untuk ditimba.
“Bang pertanyaan pertama nih. Dalam banyak buku atau jurnal ilmiah, spiritualitas itu kan erat banget kaitannya dengan integritas. Atau anti korupsi lah istilahnya. Lalu, dalam bacaan lain, agama juga punya hubungan yang kuat dengan tingkat spiritual individu. Teorinya, orang-orang yang kuat beragama juga harusnya punya spiritualitas yang kuat Bang. Tapi kenapa, banyak banget pejabat atau tokoh partai yang kelihatannya beragama, tapi justru korupsi?”
“Lu pagi-pagi udah bikin kepala gue pening lho, Yu. Heran gue. Masih pagi udah harus mikir.” Candanya.
“Gini, Yu. Gue itu sering banget OTT orang-orang yang kelihatannya itu agamanya bagus. Bahkan, saat transaksi dan kesehariannya itu pake bahasa arab gitu, Yu. Artinya kan mereka sebenarnya udah paham banget sama aturan-aturan normatifnya. Atau istilahnya, fiqihnya. Tapi kulihat, agamanya itu cuman di permukaan, Yu. Jadi, belum sampe di tahap spiritualitas kayak yang lu sebut tadi.” Jelasnya.
Saya mencerna sambil terus memberikan pertanyaan. Rasanya apa yang disampaikan oleh Praswad sangat menarik untuk terus digali. Obrolan kami juga menjadikan perjalanan menuju Public Sector Commission di William Street No 1 ini sangat syahdu. Bagaimana tidak? Saya terbayang tragedi yang terjadi di KPK beberapa tahun silam.
***
Ketua IM57+ Institute periode 2021-2024 ini terus bercerita tentang pengalamannya dalam melakukan OTT. Saya mendengarkan, menganalisa, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain yang selama ini saya simpan. Sebagai seorang warga negara yang membayangkan Indonesia akan bebas dari korupsi, mendengarkan sepak terjang Praswad adalah pengalaman yang sangat bermakna.
Rasanya, apa yang disampaikan oleh Praswad jauh lebih berharga dari buku-buku yang saya baca tentang isu yang sama. Barangkali ini sebuah kewajaran karena Ia juga tercatat sebagai ahli di bidang Penyelidikan dan Penyidikan dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di KPK. Tentu jika hanya melihatnya dengan sekilas, orang tidak akan percaya bahwa Praswad juga dikenal sebagai mentor bagi para penyelidik dan penyidik muda KPK. Tapi, begitulah kehidupan, rasanya selalu sia-sia menilai orang dari apa yang nampak.
***
Dalam banyak literatur, spiritualitas manusia dicirikan dengan 4 aspek. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Fisher (2009) dalam disertasinya yang berjudul Reaching the Heart: Assessing and Nurturing Spiritual Well-Being, yaitu aspek personal, komunal, lingkungan, dan transendental.
Dimensi personal berkaitan dengan hubungan antara individu dengan dirinya sendiri. Dimensi Komunal berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Selanjutnya, dimensi environmental terkait antara individu dengan alam sekitar. Terakhir, dimensi transendental merupakan hubungan antara individu dengan suatu yang eternal.
Muslim menyebutnya dengan sebutan Allah. Begitu pula agama-agama lainnya yang mempunyai sebutan sendiri. Seperti halnya Yahweh dalam agama Yahudi dan Bapa atau Yesus dalam Kristen. Bahkan, orang-orang agnostik maupun orang-orang atheis juga mempunyai konsep tersendiri mengenai hubungan dengan yang transendental ini.
Secara teori, individu yang mempunyai hubungan baik dalam keempat aspek yang disebutkan di atas mempunyai kesejahteraan spiritual yang tinggi. Sehingga, integritas individu-individu ini juga dapat dipastikan sangat kuat. Mereka mempunyai value yang yang kokoh, tujuan yang jelas, dan langkah yang mantap dalam hal pemberantasan korupsi.
***
“Bang, berarti apa sih poin pentingnya. Atau gini, sorry sebelumnya, saya melihat Abang itu kan tidak terlalu alim-alim banget. Ini kaitannya dengan ibadah-ibadah inti kita sebagai muslim. Tapi, saya melihat Abang punya spiritualitas yang paripurna. Maksudnya, dalam hal pemberantasan korupsi, Bang.”
“Gila lu, Yu.” Jawabnya sambil tertawa. Saya yakin dia akan menjelaskan setelah ini. Sebab gayanya memang begitu, humoris.
”Gambarannya gini, Yu. Aku dapet poin pertanyaanmu. Aku dulu pas S1 itu suka demo. Idealis garis keras pada isu anti korupsi. Kemudian, di zaman itu, aku masuk KPK, di angkatan pertama. Di mana kultur organisasinya gila banget dalam hal pemberantasan korupsi. Jadi, gue tuh kaya nemu rumah yang cocok sama idealisme gue.” Tambahnya.
“Artinya, gini ya, Bang. Instansi itu ngaruh banget ke bagaimana kita bersikap. Dalam hal ini kaitannya dengan korupsi di pelayanan publik. Dan ketika Abang nyemplung di situ, Abang ngerasa ini nih, harusnya instansi publik bekerja.” Tanyaku, memastikan.
“Bener, Yu. Jadi gini aja deh gambarannya. Lu kerja di Kumham misal. Terus di sekitar lu semua orang korup. Ini sebagai contoh aja ya, biar gampang ilustrasinya. Semuanya di sana harus dengan jalur yang korup, entah itu mutasi jabatan, naik jabatan, pengurusan ini dan itunya. Pasti lu lama-lama bakal kebawa kaya gitu. Dan, ketika lu udah kerja misal 20 tahun. Anak lu nanya, gimana sih orang biasanya bekerja. Terus lu ngejelasin dengan yang terjadi di instansi lu.”
”I see, Bang. Dan korupsi itu akan terus diwariskan dan membudaya ya, Bang?”
”Itu poinnya!”
Penulis: Wahyu Saefudin, S.Psi- PK Bapas Pontianak, Awardee Australia Awards Indonesia in Promoting Transparency and Accountability in Indonesia’s Public Sector (Pernah diterbitkan di harian Suara Pemred Edisi 20 Mei 2023)
