PONTIANAK,SP – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Pontianak menghadirkan salah satu mantan teroris dan anggota Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 pada acara Coffee Morning bersama awak media. Acara yang berlangsung di Kantin HK Bapas Kelas II Pontianak, Selasa (6/8/2024) ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.
Kepala Bapas Kelas II Pontianak, Akhmad Heru Setiawan mengatakan pihaknya bergerak bersama Densus 88 akan mengulik beberapa bimbingan yang sudah berhasil salah satunya Napi Teroris (Napiter) Salim Bin Saluyo yang terpidana selama lima tahun di Lapas Sentul.
“Salim Bin Saluyo kemarin dipidana lima tahun di Lapas Sentul dan masa Pembibingan (PB) dikirim ke kita selama dua tahun, dan sudah habis masa bimbingan 23 Maret 2024 kemarin,” kata Heru.
Selain Salim, terdapat pula tiga mantan Napiter yang telah kembali dipelukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun berhalangan hadir di acara Coffee Morning.
Ketiga Napiter tersebut yakni Ryan Endarsa Saputra, pidana tiga tahun di Lapas Bandar Lampung, masa PB 2023-2025. Kemudian Arif Ridwan, pidana empat tahun di Lapas Kuningan, masa PB 2023-2025, dan Teddy Ivan Dwi Bintara, pidana empat tahun, masa PB 2023-2025.
Di tempat yang sama, salah satu anggota Densus 88 Erlan menjelaskan bahwa awal kasus Salim pengembangannya dari salah satu kelompok yang ada di Lampung.
“Setelah kami melakukan penyelidikan yang dalam tentang kasus Salim ini, ternyarta terkait dengan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ada di Hongkong, Lampung dan Sibolga,” jelas Erlan.
Ia juga menegaskan bahwa Salim tidak mempunyai jaringan di Kalimantan Barat (Kalbar), namun berstatus rawan karena pihak Densus 88 telah banyak melakukan penangkapan di daerah berjuluk Seribu Sungai ini.
Adapun langkah dini untuk mengantisipasi terorisme yang biasa dilakukan oleh Densus 88 yaitu, sosialisasi, melakukan program pencegahan seperti menghadirkan narasumber dari mantan Napiter.
Sementara itu, Salim mengaku menyadari dan menyesali tindakan yang pernah dilakukannya dulu. Akibat perbuatannya, keluarga, sahabat, dan orang terdekat lainnya tidak mudah untuk menerimanya kembali, walaupun ia sudah tidak melakukan tindakan terorisme
“Untuk yang pertama maklumlah karena orang baru bebas, adalah sedikit yang bilang itu teroris dan ada juga yang menghindar, tapi itu saya maklumilah, jadi saya harus mendekati masyarakat untuk percaya kepada saya, saya itu sudah normal,” tutup Salim.
(ltf)https://www.suarapemredkalbar.com/read/ponticity/07082024/bapas-kelas-ii-pontianak-hadirkan-mantan-teroris-di-acara-coffee-morning
